Hadits Tentang Niat | Penjelasan Hadist Innamal A'malu Binniyat - Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW dikatakan bahwa segala amal perbuatan tergantung dari niatnya. Dengan begitu maka niat ialah masalah yang sangat penting dalam islam.
Salah satu hadits perihal niat yang umum dikenal adalah Innamal A'malu Binniyat, hadist ini menjelaskan bagaimana pentingnya kedudukan niat dalam segala amal perbuatan dan ibadah. Lalu bagaimana klarifikasi dan maksud hadits tersebut. Simak berikut ini makna isi kandungan, pendpaat para uama dan klarifikasi lengkap hadist perihal niat.
Pendapat para ulama :
Imam Syafi’i berkata “ Hadits ini mencangkup sepertiga ilmu “.
Abu Ubaid berkata “ Tidak ada di antara hadits-hadits Nabi Saw yang lebih mencangkup sesuatu, lebih mencukupi dan lebih banyak faedahnya selain hadits ini “.
Kenapa sanggup dikatakan sepertiga ilmu ? lantaran sebetulnya perbuatan seorang hamba adakalanya dari hatinya, lisannya dan anggota tubuhnya, maka niat merupakan salah satu dari tiga pecahan tersebut dan lebih berpengaruh lantaran niat terkadang menjadi ibadah yang tersendiri sedangkan selainnya butuh terhadap niat. Oleh risikonya ada hadits yang menyampaikan “ Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya “.
Asbabul wurud Hadits :
Ketika Rasul Saw datang di Madinah untuk hijrah, dia berkhutbah dengan hadits tersebut, lantaran dia mengetahui ada seorang sahabat yang melaksanakan hijrah untuk menikahi seorang perempuan yang berjulukan Muhajir Ummu Qois, maka Nabi Saw mengingatkannya dan semua sahabatnya akan pentingnya niat di dalam berhijrah.
Rasulullah Saw menghkhususkan hijrah ialah تنبيها على الكل بالبعض (sebagai peringatan untuk keseluruhan dengan menggunakan kata khusus) atau istilah ushul fiqihnya خاص معموم (khusus namun umum jangkauannya).
Fiqhul Hadits :
Ada banyak faedah dan nasihat yang sanggup di ambil dalam hadits tersebut, di antaranya :
- Sesungguhnya tidak ada amalan yang diterima kecuali berdasarkan niat, contohnya tidak sah melaksanakan wudhu atau sholat jikalau tidak di awali dengan niatnya masing-masing.
- Sesungguhnya insan diberi pahala dan siksa berdasarkan niatnya, jikalau niatnya baik, maka amalnya baik. Jika niatnya jelek maka amalnya jelek walaupun bentuknya baik.
- Segala perbuatan insan terdiri dari tiga pecahan yaitu; keta’atan, kema’shiatan dan masalah mubah.
Pertama:
Kema’shiatan ; Perbuatan maksiat tidak sanggup dirubah sama sekali dengan niat baik. Seperti seseorang yang mencuri harta orang lain dengan niat untuk disedahkan ke faqir miskin, maka ini hukumnya tetap dosa dan haram. Atau membangun masjid dengan biaya dari hasil riba atau berangkat haji dengan biaya hasil korupsi, maka ini semua hukumnya haram dan berdosa lantaran itu perbuatan maksyiat dan tidak sanggup dirubah dengan niat baik.
Maka apa yg sering kita dengar dari saudara kita yang melaksanakan perbuatan maksyiat tapi dia berasalan “ Yang penting niatnya baik “, contohnya tidak menggunakan kerudung dengan niat menyesuaikan diri dengan warga yang ada dilingkungannya yg tidak menggunakan kerudung, maka ini ialah suatu kesalahan. Atau duduk bersama teman-temannya yang sedang menggunjing orang lain dengan niatan idkhoolus surur (supaya menyenangkan hati teman), walaupun idkholus surur itu merupakan ibadah yang baik maka ia tetap berdosa lantaran ia telah salah meletakkan niat. Bahkan orang yang menyerupai ini mendapat dua dosa lantaran niatnya yang baik dengan perbuatan jelek merupakan satu keburukan lainnya.
Dan jikalau ia sudah mengetahui hal ini, maka ia berarti sengaja menentang syare’at dan jikalau ia tidak mengetahui hal ini, maka ia berdosa alasannya ialah ketidaktahuannya. Karena menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setriap oran Islam. Dari sinilah pentingnya berguru ilmu lantaran segala bentuk kebaikan dan keburukan sanggup diketahui dengan syare’at. Maka orang terbelakang sudah niscaya steiap waktunya condong menuju kesetan dan kehancuran.
Oleh lantaran itu Sahl At-Tusturi Rh berkata “ Tidak ada maksyiat kepada Allah swt yang lebih besar dari pada kebodohan. Kemudian seseorg bertanya “ Wahai Abu Muhammad, apakah engkau mengetahui sesautu yang lebih berbahaya daripada kebodohan ? dia menjawab “ Ya ada yaitu terbelakang dengan kebodohannya “.
Nabi Muhammad Saw bersabda “ Orang terbelakang tidak ditoleran atas kebodohannya dan tidaklah halal orang terbelakang berdiam atas kebodohannya dan tidaklah halal orang alim berdiam atas ilmunya “.
Kedua :
Keta’atan ; segala perbuatan ta’at berkaitan dengan niat di dalam kebsahan dan kelipatan pahalanya. Misalnya ia berbuat ta’at dengan niat lantaran Allah Swt bukan lantaran riya (pamer) untuk org lain maka keta’atannya diterima oleh Allah Swt dan sebaliknya jikalau niat riya maka keta’atannya akan bermetamorfosis maksyiat.
Dan jikalau di dalm satu kebaikan atau keta’atan memungkinkan untuk mendapat pahala yang berlipat jikalau niat baiknya di perbanyak, contohnya duduk di masjid, dari duduk di masjid ini kita sanggup memperoleh pahala yang banyak dan berlipat dengan niat :
1. Berkeyakinan masjid ialah rumah Allah swt, maka org yang masuk ke dalamnya ialah pengunjung atau tamu Allah. Maka dia berniat mengunjungi Allah Swt. Nabi Saw telah menjanjikan orang yang niat bertamu ke rumah Allah dalam sabdanya “ Barangsiapa yg duduk di masjid maka ia berarti telah ziarah ke Allah Swt, maka berhak bagi yg diziarahi memuliakan tamunya “.
2. Menunggu sholat, maka duduknya di masjid ditulis sholat oleh Allah Swt.
3. Menghindari anggota badan dari perbuatan dosa
4. Memfokuskan pikiran untuk Allah dan bertafakkur perihal nikmat Allah.
5. Untuk berdzikir kpd Allah Swt atau untuk mendngarkan dzikir. Nabi Saw bersabda “ Barangsiapa yang berangkat ke masjid untuk berdzikir kpd Allah Swt atau untuk mendengarkan dzikir, maka ia menyerupai mujahid di jalan Allah “.
6. Niat mendapat faedah ilmu dengan amar makruf nahi munkar, lantaran di dalam masjid terkadang ada orang yang salah dalam sholatnya atau ada orang yang melaksanakan kesalahan, maka dia memberi petunjuk kepdanya maka ia pun mendapat pahala yang berlipat, lantaran orang yg menunjukkan kebaikan pada orang lain menyerupai orang yg melakukannya.
7. Niat mencari sahabat untuk bersaudara kerena Allah swt.
Dan seterusnya…
Ketiga :
Perkara Mubah, sanggup menjadi pahala atau qurbah (kedekatan kepada Allah) dengan niat yang baik atau sanggup memperoleh pahala yang berlipat dengan niat baik yang banyak. Misalnya makan, ini ialah hal mubah dan sanggup mendapat pahala degannya jikalau diniatkan dengan niat yang baik, contohnya melaksanakan perintah Allah swt dan biar berpengaruh dalam beribadah.
Demikianlah hadits perihal niat lengkap beserta klarifikasi hadist Innamal A'malu Binniyat yang sanggup kami share. Semoga bermanfaat dan sanggup menjadi rujukan ilmu bagi kita semua. Wallahu a'lam. (sumber : http://www.piss-ktb.com)
Salah satu hadits perihal niat yang umum dikenal adalah Innamal A'malu Binniyat, hadist ini menjelaskan bagaimana pentingnya kedudukan niat dalam segala amal perbuatan dan ibadah. Lalu bagaimana klarifikasi dan maksud hadits tersebut. Simak berikut ini makna isi kandungan, pendpaat para uama dan klarifikasi lengkap hadist perihal niat.
Hadits Tentang Niat
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Artinya : Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatantergantung niatnya. Dan sebetulnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya lantaran (ingin mendapat keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya lantaran menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau lantaran perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
Penjelasan Hadits Tentang Niat
Pendapat para ulama :
Imam Syafi’i berkata “ Hadits ini mencangkup sepertiga ilmu “.
Abu Ubaid berkata “ Tidak ada di antara hadits-hadits Nabi Saw yang lebih mencangkup sesuatu, lebih mencukupi dan lebih banyak faedahnya selain hadits ini “.
Kenapa sanggup dikatakan sepertiga ilmu ? lantaran sebetulnya perbuatan seorang hamba adakalanya dari hatinya, lisannya dan anggota tubuhnya, maka niat merupakan salah satu dari tiga pecahan tersebut dan lebih berpengaruh lantaran niat terkadang menjadi ibadah yang tersendiri sedangkan selainnya butuh terhadap niat. Oleh risikonya ada hadits yang menyampaikan “ Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya “.
Asbabul wurud Hadits :
Ketika Rasul Saw datang di Madinah untuk hijrah, dia berkhutbah dengan hadits tersebut, lantaran dia mengetahui ada seorang sahabat yang melaksanakan hijrah untuk menikahi seorang perempuan yang berjulukan Muhajir Ummu Qois, maka Nabi Saw mengingatkannya dan semua sahabatnya akan pentingnya niat di dalam berhijrah.
Rasulullah Saw menghkhususkan hijrah ialah تنبيها على الكل بالبعض (sebagai peringatan untuk keseluruhan dengan menggunakan kata khusus) atau istilah ushul fiqihnya خاص معموم (khusus namun umum jangkauannya).
Fiqhul Hadits :
Ada banyak faedah dan nasihat yang sanggup di ambil dalam hadits tersebut, di antaranya :
- Sesungguhnya tidak ada amalan yang diterima kecuali berdasarkan niat, contohnya tidak sah melaksanakan wudhu atau sholat jikalau tidak di awali dengan niatnya masing-masing.
- Sesungguhnya insan diberi pahala dan siksa berdasarkan niatnya, jikalau niatnya baik, maka amalnya baik. Jika niatnya jelek maka amalnya jelek walaupun bentuknya baik.
- Segala perbuatan insan terdiri dari tiga pecahan yaitu; keta’atan, kema’shiatan dan masalah mubah.
Pertama:
Kema’shiatan ; Perbuatan maksiat tidak sanggup dirubah sama sekali dengan niat baik. Seperti seseorang yang mencuri harta orang lain dengan niat untuk disedahkan ke faqir miskin, maka ini hukumnya tetap dosa dan haram. Atau membangun masjid dengan biaya dari hasil riba atau berangkat haji dengan biaya hasil korupsi, maka ini semua hukumnya haram dan berdosa lantaran itu perbuatan maksyiat dan tidak sanggup dirubah dengan niat baik.
Maka apa yg sering kita dengar dari saudara kita yang melaksanakan perbuatan maksyiat tapi dia berasalan “ Yang penting niatnya baik “, contohnya tidak menggunakan kerudung dengan niat menyesuaikan diri dengan warga yang ada dilingkungannya yg tidak menggunakan kerudung, maka ini ialah suatu kesalahan. Atau duduk bersama teman-temannya yang sedang menggunjing orang lain dengan niatan idkhoolus surur (supaya menyenangkan hati teman), walaupun idkholus surur itu merupakan ibadah yang baik maka ia tetap berdosa lantaran ia telah salah meletakkan niat. Bahkan orang yang menyerupai ini mendapat dua dosa lantaran niatnya yang baik dengan perbuatan jelek merupakan satu keburukan lainnya.
Dan jikalau ia sudah mengetahui hal ini, maka ia berarti sengaja menentang syare’at dan jikalau ia tidak mengetahui hal ini, maka ia berdosa alasannya ialah ketidaktahuannya. Karena menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setriap oran Islam. Dari sinilah pentingnya berguru ilmu lantaran segala bentuk kebaikan dan keburukan sanggup diketahui dengan syare’at. Maka orang terbelakang sudah niscaya steiap waktunya condong menuju kesetan dan kehancuran.
Oleh lantaran itu Sahl At-Tusturi Rh berkata “ Tidak ada maksyiat kepada Allah swt yang lebih besar dari pada kebodohan. Kemudian seseorg bertanya “ Wahai Abu Muhammad, apakah engkau mengetahui sesautu yang lebih berbahaya daripada kebodohan ? dia menjawab “ Ya ada yaitu terbelakang dengan kebodohannya “.
Nabi Muhammad Saw bersabda “ Orang terbelakang tidak ditoleran atas kebodohannya dan tidaklah halal orang terbelakang berdiam atas kebodohannya dan tidaklah halal orang alim berdiam atas ilmunya “.
Kedua :
Keta’atan ; segala perbuatan ta’at berkaitan dengan niat di dalam kebsahan dan kelipatan pahalanya. Misalnya ia berbuat ta’at dengan niat lantaran Allah Swt bukan lantaran riya (pamer) untuk org lain maka keta’atannya diterima oleh Allah Swt dan sebaliknya jikalau niat riya maka keta’atannya akan bermetamorfosis maksyiat.
Dan jikalau di dalm satu kebaikan atau keta’atan memungkinkan untuk mendapat pahala yang berlipat jikalau niat baiknya di perbanyak, contohnya duduk di masjid, dari duduk di masjid ini kita sanggup memperoleh pahala yang banyak dan berlipat dengan niat :
1. Berkeyakinan masjid ialah rumah Allah swt, maka org yang masuk ke dalamnya ialah pengunjung atau tamu Allah. Maka dia berniat mengunjungi Allah Swt. Nabi Saw telah menjanjikan orang yang niat bertamu ke rumah Allah dalam sabdanya “ Barangsiapa yg duduk di masjid maka ia berarti telah ziarah ke Allah Swt, maka berhak bagi yg diziarahi memuliakan tamunya “.
2. Menunggu sholat, maka duduknya di masjid ditulis sholat oleh Allah Swt.
3. Menghindari anggota badan dari perbuatan dosa
4. Memfokuskan pikiran untuk Allah dan bertafakkur perihal nikmat Allah.
5. Untuk berdzikir kpd Allah Swt atau untuk mendngarkan dzikir. Nabi Saw bersabda “ Barangsiapa yang berangkat ke masjid untuk berdzikir kpd Allah Swt atau untuk mendengarkan dzikir, maka ia menyerupai mujahid di jalan Allah “.
6. Niat mendapat faedah ilmu dengan amar makruf nahi munkar, lantaran di dalam masjid terkadang ada orang yang salah dalam sholatnya atau ada orang yang melaksanakan kesalahan, maka dia memberi petunjuk kepdanya maka ia pun mendapat pahala yang berlipat, lantaran orang yg menunjukkan kebaikan pada orang lain menyerupai orang yg melakukannya.
7. Niat mencari sahabat untuk bersaudara kerena Allah swt.
Dan seterusnya…
Ketiga :
Perkara Mubah, sanggup menjadi pahala atau qurbah (kedekatan kepada Allah) dengan niat yang baik atau sanggup memperoleh pahala yang berlipat dengan niat baik yang banyak. Misalnya makan, ini ialah hal mubah dan sanggup mendapat pahala degannya jikalau diniatkan dengan niat yang baik, contohnya melaksanakan perintah Allah swt dan biar berpengaruh dalam beribadah.
Demikianlah hadits perihal niat lengkap beserta klarifikasi hadist Innamal A'malu Binniyat yang sanggup kami share. Semoga bermanfaat dan sanggup menjadi rujukan ilmu bagi kita semua. Wallahu a'lam. (sumber : http://www.piss-ktb.com)
Buat lebih berguna, kongsi:

